semerbak sang mawar dijaga,
matahari bermahkotakan peri embun,
sejuk menyelimuti sukma,
mengiringi gemercik air dilembutnya aliran sungai.
terompet lembar demi lemar daun mengiringi diriku untuk segera tertidur
dibawah kaki dan badanmu yang kekar.
menopang kehidupan sang burung.
berkicau tidaklah berhenti,
memanggil sang kekasih.
seakan menari-nari diatas angin,
indah dan mempesona mata yg memandang
setiap kepak sayap terlalu indah
langit biru yg kulihat hari ini,
sehingga aku terbuai akan kapas putih yg selalu disampingnya.
bergerak seakan tak ada beban
embun pagi memancarkan kesejukan.
disela-sela rerumputan mekarlah sang Melati,
begitu indah dan semerbak.
Ingin kupetik engkau, tp....
Apakah engkau mau membangun istana kita,
dan kuyakin pilar2 yang runtuh bisa kita bagun kembali,
dan tidak ada dinding penghalang yang tinggi
dan membuat jarak antara kita.
Jemari tanganku seakan mati rasa.
kotak-kotak-kotak dalam kehidupan membuat ruang ini tak lagi luas,
menyempit bagai seutas tali yg menghimpit dinadi
Jelang pagi, menyambut mentari yang redup....
cahayanya tertelan oleh sang rembulan yang juga mati.
dan kini aku menunggu sang bintang cerahkan hariku.
semua seakan berjalan dengan lambat,
terasa sang waktu enggan mau berlalu.
inilah saat paling indah....
pertemuan antara matahari dengan rembulan.
walau timur dan barat tak kan pernah bertemu,
sinarmu memberiku harapan akan hadirnya keindahan dalam kalbu.
Masihkah ada ragu dihatimu yang membebani setiap langkah yg kuambil.
Menyisakan tangis dalam senyum.
Membuat nafas ini tersesal hingga tak mampu berkata.
malam telah menyambutku dengan mengirimkan sang dewinya mengantar tidurku dalam mimpi indah.
Dan kini kunantikan sang malaikat datang menyentuh pipiku dan berkata " Selamat Pagi"
sekarang aku sangat takut sang rembulan kembali pada sang gelap yg selalu menemaninya selama ini,
aku benar-benar takut....
dan kini ketakutan itu semakin.........
petir menyambar ditengah mentar.
walau tak ada tanda2 sang badai akan datang,
tapi dingin ini menusuk kedalam tulang sumsum.
mungkin aku hanya bisa jadi embun pagimu yang beku,
dalam segala mimpi, dan tak mungkin menjadi bintang-bintang yang menyelimuti malammu,
aku tak kan bisa menjadi sang pelita pagi yang selalu mencerahkan setiap pagimu.
aku tak pernah merasakan sinarnya begitu dasyat.
Mungkin kamu tak kan pernah percaya,
bahwa sesunguhnya kamu telah memberiku kehangatan.
harum semberbak sang melati sampai disini,
entah mengapa mungkin karna aku begitu merindukannya sungguh-sungguh merindukannya.
matahari bermahkotakan peri embun,
sejuk menyelimuti sukma,
mengiringi gemercik air dilembutnya aliran sungai.
terompet lembar demi lemar daun mengiringi diriku untuk segera tertidur
dibawah kaki dan badanmu yang kekar.
menopang kehidupan sang burung.
berkicau tidaklah berhenti,
memanggil sang kekasih.
seakan menari-nari diatas angin,
indah dan mempesona mata yg memandang
setiap kepak sayap terlalu indah
langit biru yg kulihat hari ini,
sehingga aku terbuai akan kapas putih yg selalu disampingnya.
bergerak seakan tak ada beban
embun pagi memancarkan kesejukan.
disela-sela rerumputan mekarlah sang Melati,
begitu indah dan semerbak.
Ingin kupetik engkau, tp....
Apakah engkau mau membangun istana kita,
dan kuyakin pilar2 yang runtuh bisa kita bagun kembali,
dan tidak ada dinding penghalang yang tinggi
dan membuat jarak antara kita.
Jemari tanganku seakan mati rasa.
kotak-kotak-kotak dalam kehidupan membuat ruang ini tak lagi luas,
menyempit bagai seutas tali yg menghimpit dinadi
Jelang pagi, menyambut mentari yang redup....
cahayanya tertelan oleh sang rembulan yang juga mati.
dan kini aku menunggu sang bintang cerahkan hariku.
semua seakan berjalan dengan lambat,
terasa sang waktu enggan mau berlalu.
inilah saat paling indah....
pertemuan antara matahari dengan rembulan.
walau timur dan barat tak kan pernah bertemu,
sinarmu memberiku harapan akan hadirnya keindahan dalam kalbu.
Masihkah ada ragu dihatimu yang membebani setiap langkah yg kuambil.
Menyisakan tangis dalam senyum.
Membuat nafas ini tersesal hingga tak mampu berkata.
malam telah menyambutku dengan mengirimkan sang dewinya mengantar tidurku dalam mimpi indah.
Dan kini kunantikan sang malaikat datang menyentuh pipiku dan berkata " Selamat Pagi"
sekarang aku sangat takut sang rembulan kembali pada sang gelap yg selalu menemaninya selama ini,
aku benar-benar takut....
dan kini ketakutan itu semakin.........
petir menyambar ditengah mentar.
walau tak ada tanda2 sang badai akan datang,
tapi dingin ini menusuk kedalam tulang sumsum.
mungkin aku hanya bisa jadi embun pagimu yang beku,
dalam segala mimpi, dan tak mungkin menjadi bintang-bintang yang menyelimuti malammu,
aku tak kan bisa menjadi sang pelita pagi yang selalu mencerahkan setiap pagimu.
aku tak pernah merasakan sinarnya begitu dasyat.
Mungkin kamu tak kan pernah percaya,
bahwa sesunguhnya kamu telah memberiku kehangatan.
harum semberbak sang melati sampai disini,
entah mengapa mungkin karna aku begitu merindukannya sungguh-sungguh merindukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar