Kamis, 22 April 2010
Emmm......
Author : unknown
Ooiiii om2 ama tante2 yang pade sibuk semuanye, nih dede ada cerita, sediiiiiiiihhhhhh banget dede aje ampir nangis. Ini terutama ditijukan bagi para calon ibu, dan calon wanita2 karir yang pasti super sibuuuuuuukkkkkkkkk banget (bukan nye kite ngelarang untuk sibuk loh, orang perlu juga refreshing ama nyantai biar ..... apa gitu hehehehehe....), ingetlah selalu ok........ selamat membaca,jangan nangis ye........
"Mandikan Aku Bunda...."
Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya
sampai akhirnya .....
Rani, sebut saja begitu namanya.
Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme
tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya
sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis
maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the
best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi
Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda,
Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih
menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel'';
sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani
diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya
suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.
Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf
pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'',
jadilah nama yang enak didengar: Alifya.
Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya
sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan,
kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris
tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain,
dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif
terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?'' Dengan sigap
Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi
segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu
betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian
anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal.
Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat
telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,
cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada
cucu semata wayang itu, tentang kehebatan
ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang
naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.''
Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di
akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau
dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga
itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian
anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk
menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah
kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata
Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif,
tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski
kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang ekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut
kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya.
Meskikedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh
cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor,
entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif
ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat
diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif
sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif
agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.
Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan.
''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan.
Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena
Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak
lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya
Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien,
sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan
kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah
terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.
Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si
malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan
kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah,
satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang
menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan
anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah
tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif,
Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah
yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari
sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil,
kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali
Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah
takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun
di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia
pergi juga kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak
perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung
seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya
kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut
Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya
histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali
ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan
yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan
Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali
saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba.
Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di
atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang
menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
-- Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
-- Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
-- Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan
orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.
-- Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak
akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
~sekian~
Sabtu, 10 April 2010
Selasa, 06 April 2010
SINOPSIS CERITA DARI LANGIT
Selama ini Dyon menganggap Lonndy adalah mataharinya. Ia adalah raja di dunia cintanya. Karena terlalu mencintainya, Dyon malah menyerahkan segalanya di usianya yang masih belia. Tapi ternyata mimpi tak seindah kenyataan. Sikap Lonndy yang seakan-akan tak peduli, dingin dan tak pernah berucap sayang atau cinta; membuat hati Dyon yang rapuh makin meragu.
Kemudian Levid datang, cowok gitaris yang pandai mencipta lagu ini memberikan kenyamanan baginya terutama ia mengajarkan; bagaimana menerima semua keadaan dengan lapang dada dan mensyukuri kebahagiaan dalam keluarga. Levid seperti hujan yang menyejukkan dirinya ketika ia butuh sandaran di tengah padang pasir kering.
Apalagi ternyata Lonndy terbukti tak setia. Sementara di depan keluarga Dyon, Levid begitu menyenangkan dan pandai mengambil hati. Dyon membutuhkan matahari dan hujan seperti mereka. Tapi, siapakah nafas hidupnya sesungguhnya?
By : Dhani....
Senin, 05 April 2010
LOST MY PHONE
Entah mengapa aku merasa benda itu tak berguna lagi bagiku…. Seakan tak peduli lagi benda itu ada dimana dalam keadaan apa dan bagaimana rupanya sekarang semenjak aku menjatukannya di kantorku…. Sungguh malang nasib benda yang dulu menjadi nyawa keduaku…. Telepon gengam…. Tertera dibagian muka sebuah perusahaan telekomunikasi terkenal di dunia dan nomor wahid di Negara tercinta ini. Keluaran lama yang hanya bisa untuk sms dan telepon. Bermula dari sebuah Misa Malam Paskah yang indah namun kulalui dengan mata terkantuk-kantuk… dengan dipadamkannya lampu dan hanya diterangi dengan lilin yang menyala di setiap gengaman tangan di dalam Gereja. Sebelum masuk ke dalam gereja, telebih dahulu aku membantu anak mudika St. Yohanes Penginjil menjual bingkisan paskah di luar gerbang Gereja dengan harga bervariasi… mulai dari 15.000 sampai 35.000. ada sekitar 20 bingkisan yang telah habis terjual. Sambil menghitung uang yang telah kami dapat, aku melihat dirinya terduduk manis di sebuah tenda kerucut dengan beberapa meja mengelilinginya. Terlihat dimeja tersebut lilin-lilin putih yang tersusun yang akan digunakan umat untuk merayakan Misa Malam Paskah yang sebentar lagi akan berlansung. Misa sudah mulai…. Didalam dengan mata terkantuk-kantuk, aku mencoba untuk dapat mengikuti Misa tesebut dengan hikmat… selesai misa kulihat dya mengampiri teman2nya yang bersama2 denganku keluar dari dalam gereja. Lalu aku memisahkan diri dari kerumunan ramai yang saling bersalaman mengucapkan Selamat Paskah. Kulihat dya menjabatkan tangannya kepada setiap orang yang iya kenal… melihat senyum indahnya, aku juga ikut tersenyum… lalu. Dengan mata ini yang tak bisa lepas darinya aku duduk di kursi bakso yang tersusun rapi di halaman gereja. Memerhatikan setiap senyum, canda tawa, serta gerakan tubuhnya yang membuatku tak berhenti tersenyum… dengan langkah yang pasti aku segera meniggalkannya dan menjauh. Malam yang indah… malam yang berkesan. Malam yang tak pernah kulupakan… sesampainnya aku di depan perpustakaan paroki, aku menunggu teman2 yang masih berada di depan gereja… ku lihat lagi dya berjalan menghampiriku bersama temannya yang ingin menuju perpustakaan dimana telah menjadi sarang penyimpanan barang2 yang mereka letekan di dalamnya. Makin dekat dan tanpa disadari olehku dya mencoleku dari belakang, dengan spontan aku berbalik arah dan melihat dya tersenyum sambil mengajakku menjabatkan tangannya dan berkata “angga, Selamat Paskah ya”. Dengan hati yang berdebar sekaligus kaget aku berkata “ sama-sama”. Entah mengapa aku merasa lengkaplah Paskah ini dengan salam Paskah yang aku terima darinya. Entah karna aku menunggu dirinya mengatakan itu atau karna perasaan yang bergetar ini. Lalu dengan nada tinggi ada yang berteriak…. “Kuncinya mana nih”…. Dengan panik iya membuka tas ransel warna hijau lumut miliknya dan mengambil sebuah tempat pensil dimana dya meletakan kunci perpustakaan…. Saat itu jam 1 pagi…. Begitu lelah badan ini…. Dengan mata yang sayum yang tinggal menyisakan 5 watt aku beranjak akan pulang…. Dengan mengedong tas ransel yang berisikan laptop dan CD software aku beranjak keluar sambil berkata dalam hati “Waktunya pulang”....
To be Continue
Minggu, 04 April 2010
Ma, apakah Papa layak bertemu Tuhan Yesus ?
Saat Bang Ramadan melamarku, dia berjanji bahwa aku mengikuti keyakinannya hanya pada saat Ijab Kabul, setelah itu aku bisa kembali menjadi orang Kristen, aku percaya pada ucapannya, yap .. . . cinta membuatku BUTA !. Tapi apa yang terjadi, janji hanya tinggal janji, setelah kami menikah dengan keras dia melarangku untuk pergi kegereja.
Jangankah pergi kegereja mendengar lagu rohani atau membaca Alkitabpun tidak diperbolehkan, belum lagi Ibu mertuaku sering kali membandingku dengan menantu-menantunya yang lain, aku dikatakan kafir karena aku beragama Kristen dan kondisi ini tidak hanya mempengaruhi diriku tapi aku tau Bang Ramadan juga tertekan dengan gesekan-gesekan dari keluarganya.
Sekali waktu aku kedapatan membaca Alkitab, tampa berkata apa-apa dia mengambil Alkitab yang ada ditanganku dan membakarnya didepan mataku! bahkan dia mengancam akan menceraikanku jika melihatku membaca Alkitab atau mendengar lagu rohani.
Dalam kondisi seperti ini aku butuh teman untuk mendengar keluh kesahku, tapi aku tidak punya siapa-siapa. Apa kata mama, papa dan adik-adikku kalau mereka tau betapa tersiksanya aku.
Sering kali aku menangis jika mengingat kebodohan yang aku lakukan, saat berpacaran Bang Ramadan begitu baik, pengertian dan sabar, tak jarang dia mengantarkku ke gereja untuk mengikuti kegiatan kegereja, tidak hanya itu terkadang dia ikut masuk dan duduk dikursi paling belakang, karena itulah aku percaya saat dia melamarku dan berjanji setelah menikah kami berjalan sesuai keyakinan kami masing-masing.
Satu tahun setelah kami menikah, kami dititipin Tuhan seorang putri, namanya Siti Aminah. Sebenarnya aku tidak setuju nama yang di berikan untuk putriku, tapi kembali aku tak mampu merubah keputusan bang Ramadan, apalagi nama itu pemberian Ibu mertuaku. Karir bang Ramadan semakin hari semakin meningkat, selama 3 tahun pernikahan kami sudah berapa kali dia di promosikan dan dikirin ke luar negri. Rencananya, dalam waktu dekat perusahaan akan mengirimnya kembali ke Australian selama 2 minggu. Aku percaya ini bagian dari rencana Tuhan dalam hidupku, karena disaat suamiku selama dua minggu tidak di rumah, Tuhan menegurku untuk berbalik kepadaNya setelah tiga tahun hidup dalam kebimbangan.
Walau sikap suamiku sering melukai hatiku, tapi baru ditinggal dua hari aku merasa kehilangan. Untuk menghilangkan rasa sepi aku dan Siti jalan ke Plaza, dia sangat senang melihat permainan yang ada di Time Zone. Ketika di mall, kakiku berhenti tepat di sebuah toko munggil, toko itu dulu sering aku kunjungi bersama Mama, tapi itu sudah lama berlalu ! ! Aku ingin sekali masuk ke toko itu tapi ada rasa bersalah, aku merasa tidak pantas masuk kedalam Toko itu. Saat bingung, tiba-tiba aku
mendengar bisikan dihatiku,"masuklah anakKu, kenapa engkau ragu ?" aku sangat yakin kalau Roh Kuduslah yang berbicara bagikul Setelah melihat kiri dan kanan, dan aku yakin orang tak ada orang yang
aku kenal disekitarku, perlahan-lahan aku masuk ke Toko Buku & Kaset Rohani tersebut, walau pramuniaga menyambutku dengan ramah, aku merasa asing didalam toko tersebut. Sesaat mataku tertuju pada sebuah Alkitab mungil, dengan ragu-ragu aku ambil dan mulai membukanya.
Aku tidak tau, apa yang membuatku nekat siang ini, aku membeli Alkitab tersebut dan beberapa buah CD lagu rohani. Aku sadar penuh, kalau suamiku tau apa yang aku lakukan siang ini, dia pasti akan marah atau bahkan menceraikanku seperti ancamannya beberapa tahun yang lalu. Setibanya dirumah, aku memasang CD lagu rohani yang baru aku beli ; ada rasa damai dihatiku, ada suka cita yang memenuhi relung hatiku, sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidupku. Untuk pertama kalinya setelah 4
tahun menikah, aku kembali memegang Alkitab. Aku gemetar dan tak kuasa menahan tangis, aku mulai membaca Alkitab baruku dan mencoba mengingat-ngingat ayat favoritku ketika masih aktif digereja.
Mataku terhenti di ayat ini, tak kuasa aku menahan tangis, rasanya terlalu lama aku melukai Tuhan Yesus.
Kisah Para Rasul 4:11 Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan -- yaitu
kamu sendiri--, namun ia telah menjadi batu penjuru. 4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan
kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. Aku tidak ingin kehilangan suamiku dan putriku, jika aku berontak suamiku tidak hanya marah tapi akan menceraikannku dan mengambil anakku satu-satunya.
Kemarin malam bang Ramadan telephone dan mengatakan kalau dia pulang lebih awal dari yang direncanakan, ternyata dalam waktu sepuluh hari dia bisa menyelesaikan tugas yang diberikan perusahaan padanya.
Satu sisi aku ingin kembali kepada Kristus, tapi satu sisi lagi aku takut kehilangan orang-orang yang aku cintai, dan seandainya aku di usir dari rumah, kemana aku harus berlindung karena sampai saat ini papa masih belum memaafkanku. Akhirnya suamikupun kembali keIndonesia, untuk menghindari pertengkaran semua lagu-lagu rohani dan Alkitab yang baru aku beli, terpaksa aku simpan di gudang, aku tidak mau untuk kedua kalinya suamiku membakar Firman Tuhan.
Satu minggu pertama setelah suamiku kembali ke tahan air, aku masih mencoba bertahan untuk tidak mengungkapkan keinginanku untuk menagih janjinya yang tertunda, aku bebas menjalankan keyakinanku. Yang membuat aku bingung untuk melangkah, aku melihat dia berubah, menjadi lebih perhatian dan penyabar sekembalinya dari Australia. Tapi semakin aku mencoba melawan hasratku untuk mengutarakan keinginanku, maka semakin besar tingkat stressku ; aku gelisah ! gimana ngak stress . . . . hampir tiap malam aku mimpi bertemu dengan seseorang yang mengingatkanku untuk berbalik kepada Kristus. Satu bulan aku bergumul, aku berdoa dan berpuasa meminta kekuatan dari Tuhan, dan aku berpegang pada Firman Tuhan yang mengatakan, "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.". Aku yakin dan percaya suatu saat Tuhan akan menjamah suamiku dan melunakkan hatinya. Menjelang malam,sepulang dari kantor suamiku bilang dia mau bicarahal penting dan usahkan Siti bisa cepat tidur supaya tidak menggangu.
Aku jadi ketakutan sendiri, pikirku apakah suamiku tau saat dia pergi aku mendengarkan lagu rohani dan membaca Alkitab ? atau jangan-jangan di menemukan Alkitab atau CD rohani yang aku simpan digudang ? Aku cukup kenal sifat Bang Ramadan, aku bisa membaca dari raut wajahnya kalau dia sedang ada masalah dikantor, aku tau kalau dia sedang marah tapi berusaha menahan diri. Sebenarnya bang Ramadan adalah suami yang baik, kalaupun selama ini dia melarangku ikut ibadah digereja itu karena tekanan dari keluarganya, karena adik-adiknya semuanya menikah dengan wanita yang berkerudung, dan sebagai anak lelaki tertua dia malu istrinya beda dengan istri adik-adiknya. "Apakah mama bahagia menikah dengan papa ?", ini pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh bang Ramadan setelah kami duduk diruang tamu. Pertanyaan ini membuat aku bingung dan gugup, kenapa suamiku tiba-tiba memberiku pertanyaan seperti ini. Aku hanya mengangguk, aku harap anggukan sudah menjawab pertanyaannya dan pembicaraan selesai. "Apakah mama tidak dendam karena papa pernah membakar Alkitab dan lagu-lagu rohani diawal kita menikah dulu ?', kembali bang Ramadan bertanya padaku. Aku pikir inilah kesempatan untuk bicara padanya, "Pa, kalau aku mau jujur aku kecewa saat dilarang mendengar lagu rohani, apalagi saat Alkitab yang aku baca dirampas dan dibakar didepan mataku, apalagi sebelum menikah kita sepakat untuk menjalankan keyakinan masing-masing kan ? tapi aku sangat mengasihi papa dan Sita dan mama tau kalau papa pun sangat mengasihi mama. Keadaan yang membuat papa bersikap kasar padaku, tekanan keluarga yang membuat papa mampu melukaiku, padahal aku tau kalau
papa sangat cinta pada mama".
Lidahku kelu, saat aku melihat suamiku bersimpuh, bahkan mencium kakiku! ups. .. . . bang Ramadan menangis ! ! ! ,bang Ramadan minta ampun karena melukai hatiku selama tiga tahun pernikahan kami. Untuk pertama kalinya aku melihat suamiku menangis, masih dengan tersedu-sedu dia berkata,"Saat aku di Australia, Ridho menelphoneku, (Ridho adik bungsu suamiku, dan istrinya adalah menantu kebanggaan Ibu mertuaku, dia tidak hanya cantik tapi juga kaya dan selalu pembawaannya lemah lembut dan bertutur kata sopan), Ridho berniat untuk menceraikan istrinya, karena kedapatan selingkuh dengan rekan bisnisnya. Terus terang Papa malu pada mama, selama ini papa selalu membanding-bandingk an mama dengan istri adik-adikku yang kelihatan saleh, tunduk pada suami, rajin sholat tapi ternyata kelakuan mereka tidak sesuai dengan apa yang kelihatan selama ini, belum lagi Ibu sering membandingkan mama dengan menantu-menantu yang lainnya ! dan ternyata tidak hanya istri Ridho yang bermasalah, minggu lalu istri Fadli juga di tangkap polisi karena ketahuan memakai Narkoba bersama
teman-temannya. "
Setelah agak tenang dan mulai bisa mengendalikan emosi, Bang Ramadan mengambil sesuatu dari lemari, dan memberikannya padaku. Mataku terbelalak, ternyata isi dari amplop itu adalah Alkitab yang aku simpan digudang satu bulan yang lalu. "Papa menemukan Alkitab ini, saat mencari barang bekas digudang kita, mama jangan takut karena mulai saat ini mama bebas mendengar lagu rohani
dirumah kita, membaca Alkitab atau kalaupun mama mau pergi ke gereja dengan Sita, papa tidak akan melarang". Ini rumah mama, jadi berbuatlah sekehendak mama, papa tidak akan melarang kalau apa yang mama lakukan membuat mama bahagia". Aku tidak mampu berkata-kata, apa yang aku alami malam ini seperti mimpi! ! ! Seperti Firman Tuhan katakan, "Tuhanlah yang berperang bagi orang yang berharap dan berbalik padaNya". Aku memeluk suamiku dan kami menangis bersama dan minta maaf karena selama ini kami ijinkan orang lain mengatur kehidupan rumah tangga kami, dan tampa kami sadari semua itu melukai hati pasangan kami.
Untuk pertama kali setelah tiga tahun membina rumah tangga, aku pergi kegereja, tidak hanya aku yang semangat tapi putriku pun kelihatan suka cita, sepertinya dia tau kalau mamanya sangat bahagia. Yang membuatku heran Bang Ramadan yang rencananya mengantar kami kegereja juga berpakaian sangat rapi, tapi aku tidak banyak tanya, jangan sampai pertanyaanku membuat dia berubah pikiran. Saat aku hendak turun dari mobil, bang Ramadan memegang tanganku, dengan tatapan penuh harap dia berkata,"Mama, apakah papa layak bertemu Tuhan Yesus ?".
agus s
sekr. mbk
CINTA DAN TEMAN-TEMANNYA
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggalah berbagai macam benda benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan Sebagainya. Mereka hidup bedampingan dengan baik.
Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil yang mereka tempati dan air laut tiba-tiba naik dan akan menengelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia sendiri berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.
Tak lama cinta berdiri, datanglah kekeayaan sedang mengayunkan perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh! Maaf Cinta!” Kata Kekayaan, “perahu ini telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu ikut, nanti perahu ini tenggelam. Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.
Kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta.Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar terikan Cinta.
Air makin tinggi membasahi Cinta hingga ke pinggang dan Cinta semakin panic. Tak lama lewatlah Kecantikan. “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta.”Wah, Cinta, Kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak, saat itu lewatlah kesedihan.”Kesedihan…… bawalah aku bersamamu, kata Cinta. “Maaf, Cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sedirian saja…”. Cintapun putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menegelamkannya. Pada saat krisis itulah terdengar suara, Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!” Cinta menoleh kea rah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepatlah Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Lalu orang tersebut menurunkan Cinta di pulau terdekat dan segera pergi lagi. Cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan kepada penduduk setempat siapakah orang tua itu. “Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu.” Kata orang itu.”Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Bahkan teman-teman yang mengenalku pun engan menolongku” Tanya Cinta heran. “Sebab,” kata orang itu,”hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu…
Sabtu, 03 April 2010
Di Perpustakaan Dengan Hati Yang Bergetar
Sekarang iya ada dalam jangakauan mataku… sangat dekat hingga aku tak tau harus berkata apa… hanya diam seribu bahasa… termenung dan hanya bertemankan sebuah gantungan kunci yang kumainkan untuk menghilangkan semua rasa yang entah harus berbuat apa…. Diam2 memandangnya dengan serius… sesekali dya menatapku, lalu kusambut dengan tatapan sinis penuh kebencian karna aku tak tau harus melakukan apa…. Kini hatiku termenung… terdiam tanpa melakukan apa2… menunduk malu…. Ingin rasanya aku keluar dari tempat ini…. Bukan karna raga ini yang merasakan panas… tapi entah mengapa hati ini lebih panas lalu turun menjadi dingin berganti setiap saat tanpa henti…. Harus kuapakan perasaan ini…. Kuminum segelas air mineral yang tak jauh dari tanganku... berharap air tersebut dapat meredamkan hati yang tak menentu….terdengar getar suara yang keluar dari mulutnya… begitu berirama menurutku…. Mengetarkan setiap denyut nadi ini…. Entah apa yang kurasakan sehingga itu saja membuatku terpesona…. Kulihat lagi wajahnya…. Mengapa begitu bersinar memancarkan cahaya indah dari beberapa wanita yang berada di ruangan sempit ini hingga merasuk ke dalam hati ini….. mengapa aku mengacuhkannya….. aku tak bisa berbuat apa2 didepannya…. Hanya terdiam dan menatap sinis penuh kebencian…. Seakan ingin pergi dan meninggalkannya saja, tanpa berkata apa2…. Badan ini terasa kaku…. Senyum indah itu yang membuat badan ini kaku…. Kupejamkan mata ini… berharap dapat menengangkan hati ini… memberikan tenaga bagi untuk dapat segera meninggalkan tempat ini…. Perlahan dia berdiri membuka pintu dan pergi…. Langsung diri ini merasa lega tapi kehilangan…. Ingin ku melihat senyumnya lagi… melihat tawa yang keluar begitu lepas dan begitu bahagia…. Melihat lagi sekujur tubuhnya dengan lekukan yang menarik….. mendengarkan dirinya bercerita tenteng semua yang telah iya lakukan….. menceritakan semua kegembiraan yang ingin dya bagi dengan teman2nya…. Menceritakan semua perjalanan yang telah iya lalui….. ah….. tapi iya telah pergi…. Ingin ku mengejarnya yang telah berlari entah menuju kemana…. Tapi rasa lemas ini masih saja terasa….
Jumat, 02 April 2010
Berganti
Wajahmu slalu terbayang dalam setiap angan yang tak pernah bisa hilang walau sekejap ingin slalu dekat denganmu engan hati berpisah larut dalam dekapanmu setiap saat terlelap dalam belaianmu tak pernah kulepas dan hatiku kau manja dalam pelukan gemulai setiap gerakamu membuatku merindu ingin ku kecup dirimu dan bilang ku sayang. Sekarang aku hanya bisa tersenyum.... melihat engakau yang tersenyum disini..... entah kapan aku bisa mendekapmu.... memegang erat jemari tanganmu dan berkata.... aku sayang kamu... tak ada impian yang terindah saat ku ucapkan itu.... tapi, aku tak berdaya.... ada rasa bimbang di hati ini untuk dapat mengatakan itu.... rasa ragu dan takut unuk ungkapkan semua itu... karna aku takut menyakiti dirimu.... karna hanya dirimulah yang ada di hati ini.... dimalam yang gelap sepi. dalam kamar yang dingin aku bermimpi.... bertemu denganmu ditaman bunga dengan rangkaian bunga terhias indah di kepalamu... berjalan menyusuri hamparan bunga yang semerbak mewangi. begitu indah rasanya melihat engakau disitu... terbangulah aku dalam mimpi itu.... tapi kata mereka itu adalah bunga mimpi.... karna aku terlalu memikirkannya... terlalu teropsesi dengan pesona indahnya, terpesona dengan apa yang keluar dari mulutnya... terpesona karna hidup yang iya jalani begitu penuh dengan perjuangan...
