Entah mengapa aku merasa benda itu tak berguna lagi bagiku…. Seakan tak peduli lagi benda itu ada dimana dalam keadaan apa dan bagaimana rupanya sekarang semenjak aku menjatukannya di kantorku…. Sungguh malang nasib benda yang dulu menjadi nyawa keduaku…. Telepon gengam…. Tertera dibagian muka sebuah perusahaan telekomunikasi terkenal di dunia dan nomor wahid di Negara tercinta ini. Keluaran lama yang hanya bisa untuk sms dan telepon. Bermula dari sebuah Misa Malam Paskah yang indah namun kulalui dengan mata terkantuk-kantuk… dengan dipadamkannya lampu dan hanya diterangi dengan lilin yang menyala di setiap gengaman tangan di dalam Gereja. Sebelum masuk ke dalam gereja, telebih dahulu aku membantu anak mudika St. Yohanes Penginjil menjual bingkisan paskah di luar gerbang Gereja dengan harga bervariasi… mulai dari 15.000 sampai 35.000. ada sekitar 20 bingkisan yang telah habis terjual. Sambil menghitung uang yang telah kami dapat, aku melihat dirinya terduduk manis di sebuah tenda kerucut dengan beberapa meja mengelilinginya. Terlihat dimeja tersebut lilin-lilin putih yang tersusun yang akan digunakan umat untuk merayakan Misa Malam Paskah yang sebentar lagi akan berlansung. Misa sudah mulai…. Didalam dengan mata terkantuk-kantuk, aku mencoba untuk dapat mengikuti Misa tesebut dengan hikmat… selesai misa kulihat dya mengampiri teman2nya yang bersama2 denganku keluar dari dalam gereja. Lalu aku memisahkan diri dari kerumunan ramai yang saling bersalaman mengucapkan Selamat Paskah. Kulihat dya menjabatkan tangannya kepada setiap orang yang iya kenal… melihat senyum indahnya, aku juga ikut tersenyum… lalu. Dengan mata ini yang tak bisa lepas darinya aku duduk di kursi bakso yang tersusun rapi di halaman gereja. Memerhatikan setiap senyum, canda tawa, serta gerakan tubuhnya yang membuatku tak berhenti tersenyum… dengan langkah yang pasti aku segera meniggalkannya dan menjauh. Malam yang indah… malam yang berkesan. Malam yang tak pernah kulupakan… sesampainnya aku di depan perpustakaan paroki, aku menunggu teman2 yang masih berada di depan gereja… ku lihat lagi dya berjalan menghampiriku bersama temannya yang ingin menuju perpustakaan dimana telah menjadi sarang penyimpanan barang2 yang mereka letekan di dalamnya. Makin dekat dan tanpa disadari olehku dya mencoleku dari belakang, dengan spontan aku berbalik arah dan melihat dya tersenyum sambil mengajakku menjabatkan tangannya dan berkata “angga, Selamat Paskah ya”. Dengan hati yang berdebar sekaligus kaget aku berkata “ sama-sama”. Entah mengapa aku merasa lengkaplah Paskah ini dengan salam Paskah yang aku terima darinya. Entah karna aku menunggu dirinya mengatakan itu atau karna perasaan yang bergetar ini. Lalu dengan nada tinggi ada yang berteriak…. “Kuncinya mana nih”…. Dengan panik iya membuka tas ransel warna hijau lumut miliknya dan mengambil sebuah tempat pensil dimana dya meletakan kunci perpustakaan…. Saat itu jam 1 pagi…. Begitu lelah badan ini…. Dengan mata yang sayum yang tinggal menyisakan 5 watt aku beranjak akan pulang…. Dengan mengedong tas ransel yang berisikan laptop dan CD software aku beranjak keluar sambil berkata dalam hati “Waktunya pulang”....
To be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar